LANDING

LANDING

Minggu, 06 Juli 2014

MIMPI YANG MEMBUAT GALAU HAMPIR SEUMUR HIDUP

          Setelah lulus dari SMP Negeri 5 di Bandung, Robin van Pardey seorang anak keturunan Sunda-Belanda melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Dia harus mengikuti ayahnya pindah ke Jakarta. Ibunya yang bernama Nali Annemie Enah, orang keturunan Sunda-Belanda masih tinggal di Bandung. Sedangkan ayahnya yang bernama Subaki Seito Wakiman, orang keturunan Jawa-Jepang sudah pindah ke Jakarta delapan bulan sebelum Pardey lulus SMP. Pardey memiliki cita-cita menjadi seorang pilot, suatu pekerjaan yang  membuatnya tertarik dari waktu duduk dibangku sekolah dasar. Sebenarnya Pardey tidak mau pindah mengikuti ayahnya pindah ke Jakarta. Selain banyak kenangan indah bersama teman SMP, dia juga harus berpisah dengan orang yang dia suka. Pardey tidak berani mengungkapkan cintanya karena dia tahu kalau pertemanan lebih baik dari pacaran. Dia juga harus berpisah dengan beberapa orang sahabat yang bernama Farhan, Fadli, Cecep, Lothar, Benzer Ali, Kevin, Haninah, Gita, Sarah, Muhammad Jafar, Rizaldi, Darias, Matthew, dan Ahmad. Mereka adalah teman dekatnya Pardey mulai dari balita. Matthew orang keturunan Sunda-Perancis yang pernah tinggal selama 6 tahun di Montpellier dan Lothar Gustav, orang keturunan Jawa-Jerman yang pernah tinggal di Dresden selama 4 tahun merupakan kenalan Pardey yang kampungnya paling jauh. Mungkin bila jalan kaki menuju kampungnya butuh waktu 10 tahun lebih.
            Singkat cerita Pardey akhirnya pindah ke Jakarta. Dia tinggal bersama adiknya yang bernama Riri  Az-Zahra dan kedua orang tuanya, sedangkan adik laki-lakinya yang bernama Roci Jackson tinggal di Bandung bersama kakek-neneknya. Pardey bertempat tinggal di jalan Rasa Malam Naga di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Hari pertama di Jakarta terasa sangat aneh sekali. Kemacetan di jalan raya dan suhu udara yang panas merupakan hal yang tidak biasa bagi Pardey, karena sehari-hari di kota kembang tidak seperti itu. Membayangkan hal seperti itu di hari sekolah ternyata membuat Pardey tidak semangat. Namun ada beberapa hal yang membuatnya semangat untuk sekolah. Ia membawa "sebuah buku rahasia" yang didalamnya terdapat rencana-rencana yang sangat sangat sangat panjang. Yang telah ia tulis dari waktu ia kelas 8. Ia membuat tencana A, B, C, D dan E. Semua memiliki kelemahan dan kelebihan, namun secara keseluruhan lebih banyak kelebihannya dan sangat sedikit kelemahannya. Bahkan salah satu dari sub-rencana tersebut adalah kemungkinan untuk pindah dari Bandung ke Jakarta dan strategi apabila belum keterima sekolah penerbangan.
            Suatu ketika Pardey mendaftar di SMA Negeri 5555 Jakarta. Lokasinya yang berada di pemukiman warga menjadi alasan pilihannya karena kemungkinan aman dari tawuran antar pelajar yang marak terjadi di Jakarta. Sekolah ini terdiri dari 24 kelas mulai dari kelas A hingga X. Beberapa hari kemudian ia pun resmi berseragam SMA dengan topi bertuliskan SMA Negeri 5555 Jakarta. Dia diterima di SMA Negeri 5555 Jakarta dan bertempat di kelas 10 S. Dia harus mengikuti masa orientasi siswa atau yang biasa disingkat MOS. Pada saat masa orientasi tersebut, banyak kakak kelas yang usil terhadap dirinya dan teman-temannya terutama kakak kelas yang ikut OSIS. Akhirnya dia menjalani masa orientasi tersebut dengan baik. Bahkan Pardey sempat menjahili kakak-kakak OSIS seperti pura-pura sakit, pura-pura tidak tahu, meledek nama kakak-kakak OSIS yang aneh atau bahkan melempari batu kerikil ke kepala beberapa anak-anak OSIS.
            Pada hari pertama sekolah Pardey duduk sebangku dengan Arvanda. Dia adalah seorang laki-laki yang mirip dengan temannya di Bandung yang bernama Satria. Nama-nama murid di kelas 10 S sangat unik, seperti Disita Mallotoni, Le'le' Hardoyo, Yoschua Makan Kenangan, Marco Reuez, Abyan Berjuang Dilangit, Permata Mutiara Emas, Arvanda Buda Hariono, Chidoru Andraschwerti, Rafif Bon Jofi, Bastian Ardinata, Ghain Marucup, Dwika Prasejarah, dll. Pardey menengok ke sekeliling kelas untuk mengenali teman-tamannya di kelas. Sebenarnya ada seorang gadis yang dianggapnya menarik, namun Pardey ingat akan nasihat orang tua kalau mau berteman jangan dilihat dari luarnya saja, tapi dari isi hatinya. Akhirnya dia mengikuti nasihat orang tuanya dan mengabaikan gadis tersebut.
            Hari demi hari di kelas yang ramai ini dia jalani dengan ikhlas. Dalam waktu singkat dia sudah memiliki banyak kenalan. Bukan teman sekelas saja, namun dari kelas lain juga sudah ada kenalannya. Seperti Agus Prasejarah, Thaummas Irian Jaya, Autan, Ammir Mummadrid, Dippo Agang, Hand Taqoyaki, Frida, dll. Dalam hatinya dia masih merasa galau karena harus berpisah dengan teman-teman SMPnya dan orang yang dia suka, namun takdir berkata lain. Dia harus menerima kenyataan itu dan pada akhirnya Pardey bisa move on dari itu semua.
            Enam bulan kemudian Pardey kembali tertarik sama seorang gadis yang pada hari pertama sekolah menarik perhatiannya. Gadis tersebut orangnya cerdas, anggun, dan pokoknya sangat menarik perhatian bagi anak keturunan Sunda-Belanda tersebut. Bagi dirinya dialah orang yang paling menarik di dunia ini. Dia menyatakan gadis tersebut cerdas karena dia ranking 10 besar di kelasnya. Sedangkan Pardey hanya bertengger di ranking 18. Pardey merasa galau dan pada saat itu juga Pardey menyimpan perasaan pada gadis tersebut. Namun Pardey tetap mengikuti nasihat orang tuanya.
            Lima bulan kemudian ada pembagian rapot kenaikan kelas. Lagi-lagi dia masuk ranking 10 besar, namun pada kesempatan kali ini Pardey masuk ranking 10 besar juga. Singkat cerita kelas 10 S mengadakan perpisahan kelas di Pangrango selama tiga hari tiga malam. Suatu waktu di sore hari Pardey bermain bulu tangkis bersama gadis yang menarik perhatiannya. Pada saat itu angin bertiup sepoi-sepoi dan membuat rambut dari gadis tersebut terangkat. Pada waktu yang sama ada seorang teman yang menyalakan lampu sorot ke wajah gadis tersebut. Kejadian ini membuat keanggunan gadis tersebut bertambah lima kali lipat kuadrat pangkat lima belas. Saat itu juga dalam hati Pardey menyatakan suka pada gadis tersebut. Namun ia tidak berani menyatakan cintanya pada gadis tersebut karena masih grogi. Setelah itu Pardey akhirnya tertidur diatas sebuah ayunan karena lelah setelah bermain bulu tangkis dengan gadis yang disukainya.
            Masa liburan kenaikan kelas sudah berlalu. Pardey harus berpisah kelas dengannya. Gadis tersebut di kelas 11 IPA H sedangkan Pardey di kelas 11 IPA E. Karena pisah kelas akhirnya Pardey kalau berpapasan dengannya suka salah tingkah, atau bahkan melakukan hal yang konyol. Namun ini merupakan hal yang biasa terjadi jika memang sedang jatuh cinta. Bahkan Pardey sampai dikomentari sama temannya yang bernama Joe Hart Arifin dan Thaummas Irian Jaya.
            Karena saking sukanya terhadap gadis tersebut Pardey curhat ke temannya yang bernama Agus Prasejarah, Berjuang Dilangit, dan Joe Hart Arifin. Mereka sudah berpengalaman dengan dengan yang namanya cinta. Namun sepertinya mereka tidak mengganggap serius tentang apa yang Pardey bicarakan. 
            Hari demi hari pun terus berlanjut di masa kelas 11. Di akhir semester 2 kelas 11 Pardey belum mengungkapkan perasaannya ke gadis tersebut. Sampai suatu ketika habislah tahun ajaran 2012/2013.
            Suatu ketika ada pembagian kelas. Dirumah Pardey ada Prasejarah, Gayo Sulistianto, Beruang Dilangit, Joe Hart Arifin, dan Thaummas Irian Jaya. Mereka menunggu hasil pembagian kelas yang akan diterbitkan melalui website sekolah tersebut. Dalam hatinya Pardey berharap satu kelas dengan gadis yang ditaksirnya mulai dari kelas 10 semester dua kurang empat puluh delapan hari. Akhirnya data pembagian kelas sudah keluar, mereka mengecek satu demi satu daftar nama pada murid-murid kelas 12. Namun apa daya, Pardey tidak satu kelas untuk yang kedua kalinya dengan gadis yang ditaksirnya. Dalam hatinya Pardey sangat sedih dan berniat akan pindah kelas. Namun tidak bisa dan itu membuat hati Pardey galau tingkat provinsi.
            Karena kejadian ini akhirnya Pardey meminta saran kepada temannya yang bernama Prasejarah. Dia memberi saran “Kalau lo memberi waktu terlalu lama, itu membuat ruang  kepada orang lain untuk merebut hatinya dari lo”. Kata-kata tersebut membuat Pardey semakin galau, bahkan tingkat nasional. Lalu Pardey menjawab “Tapi Pras, gue gak berani menyatakan cinta. Gue masih grogi”, lalu Prasejarah menjawab “Gak usah tapi-tapian, lebih baik lo kejar tuh daripada direbut sama orang lain”. Pardey langsung bengong, lalu kemudian Prasejarah berkata “Eeeh malah bengong, nanti gue nih yang nembak dia. Ingat cewe itu harus dikejar, bukan dia yang mengejar cowok. Do the best, Action!!”
            Pardey mendengar kata-kata dari Prasejarah. Didalam hatinya semangat mengejar gadis yang disukainya bertambah lima kali lipat, namun sangat berbanding terbalik dengan nyalinya untuk mengungkapkan perasaan cintanya. Di saat yang sama Pardey mendengar Prasejarah member nasihat “Ingat, DI-KE-JAR!!”. Namun Pardey seperti menghiraukan kata-kata tersebut.
            Suatu ketika Pardey berniat untuk menyatakan cintanya, targetnya adalah saat mau lulus SMA nanti. Dia menargetkan pada saat itu karena jika ditanya “Kapan mau nembar Par?” oleh teman-temannya dia bisa memberikan alasan untuk fokus dulu pada pelajaran di sekolah.  Namun menyimpan perasaan cinta sama saja dengan menahan ingin buang tai alias boker atau dapat dikatakan menahan tai dari badan. Bedanya kalau menahan boker itu nyeseknya di perut tapi kalau menahan cinta nyeseknya di hati. Ia ingin cepat-cepat menyampaikannya. Namun sangat sulit untuk menyatakan cintanya.
            Suatu hari Pardey mendengar kabar bahwa gadis yang disukainya sudah berpacaran dengan cowok lain. Hal itu membuat hatinya hancur berkeping-keping. Perasaan galau saat itu sangat luar biasa. Dia galau tingkat internasional. Lalu Pardey berteriak “TIDAAAAK”. Namun tiba-tiba ada suara samar-samar seperti membangunkan seseorang dari tidur. Suara itu perlahan-lahan samakin keras. Beberapa saat kemudian ada suara lain yang ikut terdengar, semakin lama suara itu semakin banyak dan semakin keras. Lalu kemudian terdengar suara “Woi, Pardey bangun”. Dalam sekejap mata Pardey terbuka lalu seorang temannya berkata “Ngapain lo barusan teriak ‘TIDAK’? Lo udah tertidur di atas ayunan dari tadi sore. Sekarang udah jam 9 malam”. Lalu Pardey menjawab “Gue abis mimpi buruk bro, gue capek abis main bulutangkis”. Ternyata Pardey sudah dikelilingi oleh beberapa temannya untuk membangunkannya karena jam 11 malam akan ada acara api unggun.

            Dalam hati Pardey berkata “Untung gue dibangunin sama temen gue, kalo enggak gue bisa galau selamanya nih gara-gara dia jadian”. Ternyata Pardey mengalami mimpi buruk yang nyaris membuatnya galau seumur hidup. Dari mimpi yang baru dialami oleh Pardey, dia pun bertekad untuk tidak membiarkan kejadian yang hampir membuatnya galau seumur hidup terjadi. Dia bertekad untuk mendapatkan gadis yang anggun itu. Baginya, mimpi tersebut memberi hikmah kepada dirinya bahwa kalau jadi laki-laki harus berani menyatakan cinta kepada orang yang dia suka. Apapun yang terjadi,  laki-laki itu harus mempunyai nyali atau keberanian yang besar dan berusaha untuk mendapatkannya sebesar apapun resikonya.

Baca Juga Postingan Gue Yang Lain Yaaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar