Setelah
lulus dari SMP Negeri 5 di Bandung, Robin van Pardey seorang anak keturunan
Sunda-Belanda melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Dia harus mengikuti ayahnya
pindah ke Jakarta. Ibunya yang bernama Nali Annemie Enah, orang keturunan
Sunda-Belanda masih tinggal di Bandung. Sedangkan ayahnya yang bernama Subaki Seito Wakiman, orang keturunan Jawa-Jepang sudah pindah ke Jakarta delapan bulan sebelum Pardey lulus SMP.
Pardey memiliki cita-cita menjadi seorang pilot, suatu pekerjaan yang membuatnya tertarik dari waktu duduk dibangku
sekolah dasar. Sebenarnya Pardey tidak mau pindah mengikuti ayahnya pindah ke
Jakarta. Selain banyak kenangan indah bersama teman SMP, dia juga harus berpisah
dengan orang yang dia suka. Pardey tidak berani mengungkapkan cintanya karena
dia tahu kalau pertemanan lebih baik dari pacaran. Dia juga harus berpisah dengan beberapa orang sahabat yang
bernama Farhan, Fadli, Cecep, Lothar, Benzer Ali, Kevin, Haninah, Gita, Sarah, Muhammad Jafar, Rizaldi, Darias, Matthew, dan Ahmad. Mereka adalah teman dekatnya Pardey mulai dari balita. Matthew orang keturunan Sunda-Perancis yang pernah tinggal selama 6 tahun di Montpellier dan Lothar Gustav, orang keturunan Jawa-Jerman yang pernah tinggal di Dresden selama 4 tahun merupakan kenalan Pardey yang kampungnya paling jauh. Mungkin bila jalan kaki menuju kampungnya butuh waktu 10 tahun lebih.
Singkat cerita Pardey akhirnya
pindah ke Jakarta. Dia tinggal bersama adiknya yang bernama Riri Az-Zahra dan kedua
orang tuanya, sedangkan adik laki-lakinya yang bernama Roci Jackson tinggal di
Bandung bersama kakek-neneknya. Pardey bertempat tinggal di jalan Rasa Malam Naga di
daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Hari pertama di Jakarta terasa sangat aneh
sekali. Kemacetan di jalan raya dan suhu udara yang panas merupakan hal yang
tidak biasa bagi Pardey, karena sehari-hari di kota kembang tidak seperti itu. Membayangkan hal seperti itu di hari sekolah ternyata membuat Pardey tidak semangat. Namun ada beberapa hal yang membuatnya semangat untuk sekolah. Ia membawa "sebuah buku rahasia" yang didalamnya terdapat rencana-rencana yang sangat sangat sangat panjang. Yang telah ia tulis dari waktu ia kelas 8. Ia membuat tencana A, B, C, D dan E. Semua memiliki kelemahan dan kelebihan, namun secara keseluruhan lebih banyak kelebihannya dan sangat sedikit kelemahannya. Bahkan salah satu dari sub-rencana tersebut adalah kemungkinan untuk pindah dari Bandung ke Jakarta dan strategi apabila belum keterima sekolah penerbangan.
Suatu ketika Pardey mendaftar di SMA
Negeri 5555 Jakarta. Lokasinya yang berada di pemukiman warga menjadi alasan pilihannya
karena kemungkinan aman dari tawuran antar pelajar yang marak terjadi di
Jakarta. Sekolah ini terdiri dari 24 kelas mulai dari kelas A hingga X. Beberapa hari kemudian ia pun resmi berseragam SMA dengan topi
bertuliskan SMA Negeri 5555 Jakarta. Dia diterima di SMA Negeri 5555 Jakarta dan
bertempat di kelas 10 S. Dia harus mengikuti masa orientasi siswa atau yang
biasa disingkat MOS. Pada saat masa orientasi tersebut, banyak kakak kelas yang
usil terhadap dirinya dan teman-temannya terutama kakak kelas yang ikut OSIS.
Akhirnya dia menjalani masa orientasi tersebut dengan baik. Bahkan Pardey sempat menjahili kakak-kakak OSIS seperti pura-pura sakit, pura-pura tidak tahu, meledek nama kakak-kakak OSIS yang aneh atau bahkan melempari batu kerikil ke kepala beberapa anak-anak OSIS.
Pada hari pertama sekolah Pardey
duduk sebangku dengan Arvanda. Dia adalah seorang laki-laki yang mirip dengan
temannya di Bandung yang bernama Satria. Nama-nama murid di kelas 10 S sangat unik, seperti Disita Mallotoni, Le'le' Hardoyo, Yoschua Makan Kenangan, Marco Reuez, Abyan Berjuang Dilangit, Permata Mutiara Emas, Arvanda Buda Hariono, Chidoru Andraschwerti, Rafif Bon Jofi, Bastian Ardinata, Ghain Marucup, Dwika Prasejarah, dll. Pardey menengok ke sekeliling kelas
untuk mengenali teman-tamannya di kelas. Sebenarnya ada seorang gadis yang
dianggapnya menarik, namun Pardey ingat akan nasihat orang tua kalau mau berteman
jangan dilihat dari luarnya saja, tapi dari isi hatinya. Akhirnya dia mengikuti
nasihat orang tuanya dan mengabaikan gadis tersebut.
Hari demi hari di kelas yang ramai
ini dia jalani dengan ikhlas. Dalam waktu singkat dia sudah memiliki banyak kenalan.
Bukan teman sekelas saja, namun dari kelas lain juga sudah ada kenalannya. Seperti Agus Prasejarah, Thaummas Irian Jaya, Autan, Ammir Mummadrid, Dippo Agang, Hand Taqoyaki, Frida, dll. Dalam
hatinya dia masih merasa galau karena harus berpisah dengan teman-teman SMPnya
dan orang yang dia suka, namun takdir berkata lain. Dia harus menerima
kenyataan itu dan pada akhirnya Pardey bisa move
on dari itu semua.
Enam bulan kemudian Pardey kembali
tertarik sama seorang gadis yang pada hari pertama sekolah menarik
perhatiannya. Gadis tersebut orangnya cerdas, anggun, dan pokoknya sangat
menarik perhatian bagi anak keturunan Sunda-Belanda tersebut. Bagi dirinya
dialah orang yang paling menarik di dunia ini. Dia menyatakan gadis tersebut
cerdas karena dia ranking 10 besar di kelasnya. Sedangkan Pardey hanya
bertengger di ranking 18. Pardey merasa galau dan pada saat itu juga Pardey
menyimpan perasaan pada gadis tersebut. Namun Pardey tetap mengikuti nasihat
orang tuanya.
Lima bulan kemudian ada pembagian
rapot kenaikan kelas. Lagi-lagi dia masuk ranking 10 besar, namun pada
kesempatan kali ini Pardey masuk ranking 10 besar juga. Singkat cerita kelas
10 S mengadakan perpisahan kelas di Pangrango selama tiga hari tiga malam. Suatu
waktu di sore hari Pardey bermain bulu tangkis bersama gadis yang menarik
perhatiannya. Pada saat itu angin bertiup sepoi-sepoi dan membuat rambut dari
gadis tersebut terangkat. Pada waktu yang sama ada seorang teman yang
menyalakan lampu sorot ke wajah gadis tersebut. Kejadian ini membuat keanggunan
gadis tersebut bertambah lima kali lipat kuadrat pangkat lima belas. Saat itu juga dalam hati Pardey
menyatakan suka pada gadis tersebut. Namun ia tidak berani menyatakan cintanya
pada gadis tersebut karena masih grogi. Setelah itu Pardey akhirnya tertidur
diatas sebuah ayunan karena lelah setelah bermain bulu tangkis dengan gadis
yang disukainya.
Masa liburan kenaikan kelas sudah
berlalu. Pardey harus berpisah kelas dengannya. Gadis tersebut di kelas 11 IPA
H sedangkan Pardey di kelas 11 IPA E. Karena pisah kelas akhirnya Pardey kalau
berpapasan dengannya suka salah tingkah, atau bahkan melakukan hal yang konyol.
Namun ini merupakan hal yang biasa terjadi jika memang sedang jatuh cinta. Bahkan Pardey sampai dikomentari sama temannya yang bernama Joe Hart Arifin dan Thaummas Irian Jaya.
Karena saking sukanya terhadap gadis
tersebut Pardey curhat ke temannya yang bernama Agus Prasejarah, Berjuang Dilangit, dan Joe Hart Arifin.
Mereka sudah berpengalaman dengan dengan yang namanya cinta. Namun sepertinya
mereka tidak mengganggap serius tentang apa yang Pardey bicarakan.
Hari demi hari pun terus berlanjut
di masa kelas 11. Di akhir semester 2 kelas 11 Pardey belum mengungkapkan
perasaannya ke gadis tersebut. Sampai suatu ketika habislah tahun ajaran 2012/2013.
Suatu ketika ada pembagian kelas.
Dirumah Pardey ada Prasejarah, Gayo Sulistianto, Beruang Dilangit, Joe Hart Arifin, dan Thaummas Irian Jaya. Mereka
menunggu hasil pembagian kelas yang akan diterbitkan melalui website sekolah
tersebut. Dalam hatinya Pardey berharap satu kelas dengan gadis yang
ditaksirnya mulai dari kelas 10 semester dua kurang empat puluh delapan hari. Akhirnya data pembagian kelas
sudah keluar, mereka mengecek satu demi satu daftar nama pada murid-murid kelas
12. Namun apa daya, Pardey tidak satu kelas untuk yang kedua kalinya dengan
gadis yang ditaksirnya. Dalam hatinya Pardey sangat sedih dan berniat akan
pindah kelas. Namun tidak bisa dan itu membuat hati Pardey galau tingkat
provinsi.
Karena kejadian ini akhirnya Pardey
meminta saran kepada temannya yang bernama Prasejarah. Dia memberi saran “Kalau
lo memberi waktu terlalu lama, itu membuat ruang kepada orang lain untuk merebut hatinya dari
lo”. Kata-kata tersebut membuat Pardey semakin galau, bahkan tingkat nasional.
Lalu Pardey menjawab “Tapi Pras, gue gak berani menyatakan cinta. Gue masih grogi”,
lalu Prasejarah menjawab “Gak usah tapi-tapian, lebih baik lo kejar tuh daripada
direbut sama orang lain”. Pardey langsung bengong, lalu kemudian Prasejarah berkata “Eeeh malah bengong, nanti gue nih yang nembak dia. Ingat cewe itu
harus dikejar, bukan dia yang mengejar cowok. Do the best, Action!!”
Pardey mendengar kata-kata dari
Prasejarah. Didalam hatinya semangat mengejar gadis yang disukainya bertambah
lima kali lipat, namun sangat berbanding terbalik dengan nyalinya untuk
mengungkapkan perasaan cintanya. Di saat yang sama Pardey mendengar Prasejarah member nasihat “Ingat, DI-KE-JAR!!”. Namun Pardey seperti menghiraukan
kata-kata tersebut.
Suatu ketika Pardey berniat untuk
menyatakan cintanya, targetnya adalah saat mau lulus SMA nanti. Dia menargetkan
pada saat itu karena jika ditanya “Kapan mau nembar Par?” oleh teman-temannya
dia bisa memberikan alasan untuk fokus dulu pada pelajaran di sekolah. Namun menyimpan perasaan cinta sama saja
dengan menahan ingin buang tai alias boker atau dapat dikatakan menahan tai dari badan. Bedanya kalau menahan boker itu nyeseknya di perut tapi kalau menahan cinta nyeseknya di hati. Ia ingin cepat-cepat menyampaikannya. Namun
sangat sulit untuk menyatakan cintanya.
Suatu hari Pardey mendengar kabar
bahwa gadis yang disukainya sudah berpacaran dengan cowok lain. Hal itu membuat
hatinya hancur berkeping-keping. Perasaan galau saat itu sangat luar biasa. Dia
galau tingkat internasional. Lalu Pardey berteriak “TIDAAAAK”. Namun tiba-tiba
ada suara samar-samar seperti membangunkan seseorang dari tidur. Suara itu
perlahan-lahan samakin keras. Beberapa saat kemudian ada suara lain yang ikut
terdengar, semakin lama suara itu semakin banyak dan semakin keras. Lalu
kemudian terdengar suara “Woi, Pardey bangun”. Dalam sekejap mata Pardey
terbuka lalu seorang temannya berkata “Ngapain lo barusan teriak ‘TIDAK’? Lo
udah tertidur di atas ayunan dari tadi sore. Sekarang udah jam 9 malam”. Lalu
Pardey menjawab “Gue abis mimpi buruk bro, gue capek abis main bulutangkis”.
Ternyata Pardey sudah dikelilingi oleh beberapa temannya untuk membangunkannya
karena jam 11 malam akan ada acara api unggun.
Dalam hati Pardey berkata “Untung
gue dibangunin sama temen gue, kalo enggak gue bisa galau selamanya nih
gara-gara dia jadian”. Ternyata Pardey mengalami mimpi buruk yang nyaris
membuatnya galau seumur hidup. Dari mimpi yang baru dialami oleh Pardey, dia
pun bertekad untuk tidak membiarkan kejadian yang hampir membuatnya galau
seumur hidup terjadi. Dia bertekad untuk mendapatkan gadis yang anggun itu. Baginya,
mimpi tersebut memberi hikmah kepada dirinya bahwa kalau jadi laki-laki harus
berani menyatakan cinta kepada orang yang dia suka. Apapun yang terjadi, laki-laki itu harus mempunyai nyali atau
keberanian yang besar dan berusaha untuk mendapatkannya sebesar apapun
resikonya.
Baca Juga Postingan Gue Yang Lain Yaaa